Dulu, waktu masih kerja, saya selalu punya alasan untuk tidak mengurus perangkat rumah sendiri. Ada teknisi kantor, ada anak muda di divisi IT, ada siapa saja yang lebih paham daripada saya. Sekarang, setelah pensiun, mau tidak mau saya yang harus pegang remote sendiri. Dan ternyata, di situlah pelajaran paling berharga datang.
Remote TV yang Mengajarkan Saya Sabar
Remote TV kelihatan sepele, kan? Tiga puluh tombol, dua baterai, selesai. Tapi coba deh kamu duduk di sofa, ingin nonton siaran bola, dan tiba-tiba layar bilang "no signal". Saya sempat marah-marah sendiri, menyalahkan cuaca, menyalahkan antena, bahkan menyalahkan tetangga yang katanya pasang parabola baru.
Setelah dua hari bolak-balik, ternyata masalahnya cuma kabel HDMI yang longgar. Satu kabel. Dua hari. Itu pelajaran pertama saya: jangan panik dulu, cek yang paling sederhana. Orang tua seperti saya sering langsung curiga yang macam-macam, padahal solusinya kadang cuma colok ulang.
Baca juga: Pensiunan Baru Mulai: 5 Langkah Atur Perangkat Rumah Biar Nggak Ribet
Sejak itu, saya biasakan diri baca buku manual. Iya, buku manual yang biasanya langsung dibuang itu. Ternyata di sana ada penjelasan tombol yang selama ini saya tekan asal-asalan. Ada tombol "source" yang fungsinya ganti input, ada tombol "menu" yang bisa atur warna layar. Hal kecil, tapi bikin saya merasa lebih menguasai rumah sendiri.
Rice Cooker: Teman Setia yang Sering Diabaikan
Kalau remote TV bikin saya belajar sabar, rice cooker bikin saya belajar menghargai hal yang sudah bekerja diam-diam. Selama puluhan tahun, rice cooker di rumah saya nyala tiap pagi, masak nasi, lalu mati sendiri. Saya tidak pernah peduli. Sampai suatu hari nasinya jadi keras dan bagian bawahnya gosong.
Saya kira rice cooker-nya rusak. Ternyata cuma panci dalamnya yang belum kering sempurna waktu dipasang. Ada sensor di bagian bawah yang sensitif terhadap kelembapan. Siapa sangka? Perangkat sederhana yang saya anggap "cuma masak nasi" ternyata punya teknologi sensor yang lumayan canggih.
Dari situ saya mulai rajin membersihkan rice cooker, terutama bagian elemen pemanas di bawah. Ternyata banyak kerak dan sisa air. Setelah dibersihkan, nasinya kembali pulen. Rasanya seperti dapat alat baru, padahal cuma rajin bersih-bersih.
"Teknologi rumahan itu bukan soal canggih atau tidak, tapi soal kita mau kenal atau tidak."
Belajar dari Perangkat Kecil Lainnya
Selain dua benda itu, ada beberapa perangkat lain yang akhirnya saya pelajari pelan-pelan. Bukan karena saya hobi teknologi, tapi karena kebutuhan. Anak-anak saya sudah jauh, dan saya tidak mau tiap ada masalah kecil harus telepon mereka.
Setrika Listrik dan Suhu yang Tidak Boleh Asal
Setrika saya punya tombol putar untuk atur suhu. Dulu saya asal putar ke paling panas, karena pikir makin panas makin cepat licin. Ternyata baju favorit saya jadi mengkilap dan agak meleleh di bagian kerah. Sejak itu saya baca lagi petunjuk di setrika: ada tanda titik untuk kain tipis, titik banyak untuk kain tebal. Sederhana, tapi menyelamatkan lemari saya.
Kipas Angin dan Debu yang Menumpuk
Kipas angin di kamar saya mulai berisik. Saya kira baling-balingnya rusak. Ternyata cuma debu tebal di dalam. Setelah dibuka dan dibersihkan, suaranya kembali halus. Pelajarannya: perangkat yang berisik biasanya minta dibersihkan, bukan diganti.
Lampu LED yang Lebih Awet dari Dugaan
Saya sempat ragu waktu anak saya menyarankan ganti lampu pijar dengan LED. Katanya lebih hemat listrik. Awalnya saya kira cuma tren. Tapi setelah tiga bulan, tagihan listrik turun lumayan. Dan lampunya tidak panas seperti lampu lama. Untuk pensiunan yang pengen hemat, ini kabar baik.
Pelajaran yang Saya Bawa Sampai Sekarang
Kalau saya rangkum, ada beberapa hal yang saya dapat dari pengalaman ini. Mungkin berguna juga buat kamu yang baru masuk masa pensiun atau sedang menikmati hari-hari di rumah.
- Cek yang paling sederhana dulu. Kabel longgar, baterai habis, atau tombol salah tekan sering jadi penyebab utama. Jangan langsung mikir yang rumit.
- Baca buku manual. Tidak perlu semua halaman. Cukup bagian yang sering kamu pakai. Di situ biasanya ada jawaban.
- Rawat rutin itu penting. Bersihkan perangkat secara berkala. Debu dan kerak adalah musuh diam-diam yang bikin alat cepat rusak.
- Jangan malu bertanya. Tanya anak, tanya tetangga, tanya penjual di toko elektronik. Tidak ada yang salah dengan itu.
- Catat pengalaman sendiri. Saya sekarang punya buku kecil berisi catatan kecil soal perangkat rumah. Kapan terakhir dibersihkan, apa masalahnya, bagaimana solusinya. Kadang saya lupa, jadi catatan itu penyelamat.
Yang paling penting, saya jadi sadar bahwa teknologi rumahan itu bukan musuh. Dia cuma alat yang menunggu kita kenal. Dulu saya pikir pensiun berarti berhenti belajar. Ternyata justru sebaliknya. Rumah saya jadi sekolah baru, dan perangkat-perangkat kecil itu gurunya. Kadang menyebalkan, kadang bikin kesal, tapi selalu ada pelajaran yang bisa dipetik.
Kalau kamu juga sedang di fase ini, nikmati saja. Tidak perlu jadi ahli. Cukup paham sedikit-sedikit, dan jangan takut salah tekan. Perangkat rumah itu jauh lebih sabar daripada yang kita kira.